Bedah Buku : "WISATA NUSANTARA Antologi Keindahan Bumi Pertiwi", penulis : Nia Kurniasih dkk



Oleh : Drs. Edi Kusmaya, M.Pd
(Pimred Tabloid Cakra Banten)

 “Tulislah apa yang kita sudah lakukan - lakukan apa yang sudah kita tulis”.


Pengalaman dan pemikiran yang dituangkan dalam tulisan , kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku – adalah salah satu bentuk budaya yang terbukti mampu bertahan hingga kini. Walau seiring perkembangan ilmu dan pengetahuan, kehadirannya bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Setelah hadirnya dikumentasi digital yang mampu menembus ruang dan waktu.
Namun kita yakin keberadaan BUKU secara konvensional tak akan tergantikan, sampai kapanpun dan dengan apapun - selama peradaban manusia itu ada.


Paling tidak ada tiga hal utama komentar tentang buku karya “keroyokan” ini sbb :


Pertama, konten (isi);
Aktivitas wisata, merupakan salah satu kebutuhan batin setiap individu, dalam menyelaraskan keimbangan hidup dan kehidupannya. Jadi lebih kepada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri.
Karenanya wisata, salah satu yang selalu menarik untuk ditulis. Jadi pemilihan tema ini akan memberikan kesempatan para penulis, mengekplorasi, mengorganisasikan dan menyusun pengalaman dan mendokumentasikanya ke dalam tulisan.


Karena rangkaian tulisan, lebih didominasi penuturan pengalaman dalam melihat suatu objek dari sudut pandang masing-masing dan memaknainya sesuai dengan persepsi dan wawasan setiap penulis.


Kedua, bentuk tulisan;
Tulisan khas/Feature dan atau Essay. Tidak ada definisi katagori jenis tulisan ini. Setiap orang bisa dengan bebas bereksperimen, dan tentunya dengan gaya (style) masing2.
Ciri tulisan perpaduan ilmiah dan sastra. Ilmiah dalam arti bukan fiksi, artinya menyampaikan hal-hal faktual. Bisa dengan gaya berita (news), penuturan, pernyataan (statmen) bahkan bisa juga dialog dengan nara sumber. Kemudian dilengkapi oleh studi literaratur dan dokumentasi seperti foto data kuantitatif maupun kualitatif.


Terakhir tinggal porsi penyajiannya, antara bahasa ilmiah (formal) dengan bahasa sastra (pop). Lagi-lagi tidak ada aturan baku, berapa prosen bahasa formal dan bahasa sastranya. Namun yang jelas, semakin ringan bahasa yang digunakan, semakin sederhana pemilihan kata dan kalimat – tulisan itu semakin enak dibaca (dinikmati).


Mengapa tulisan ringan dengan bahasan yang sederhana dan selingan humor, cenderung secara umum lebih disenangi oleh pembaca ? Alasannya sederhana – karena menginginkan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan. Bukan sesuatu yang berat, yang menguras pemikiran.
Trend itu terjadi juga dalam karya audio visual di social media, dimana orang lebih senang menonton daripada membaca. Tontonan pun semakin simple artinya durasi semakin pendek dan cenderung konten2 hiburan ringan yang mebuat rilek setidaknya senyum kalau belum bisa tertawa. Itulah faktanya.
Karenanya semua tulisan pun walaupun panjang, dibuat sesimpel mungkin. Jika memang tidak bisa disipelkan buatlah bagian-bagian kecil yang meringankan pembaca.
Implementasinya, hidari kalimat dan alinea yang terlalu panjang. Kalimat yang terlalu banyak frase – sering mengaburkan isi/pesan kalimat dan atau aliea.
Hindari kata berulang, cari istilah lainnya sebagai penggantinya. Hindari istilah yang mempunyai makna. Dahulukan bahasa Indonesia, jika terpaksa kata asing harus ditulis – maka tulis penjelasannya.


Hindari banyaknya penomoran dalam bagian-bagian seperti dalam buku-buku sekolah. Berilah bumbu tulisan, supaya tulisan terasa renyah dan pembaca akan merasa terhibur.
Ketiga, teknis penulisan
Sepele tapi penting, itulah teknis penulisan. Paling tidak ada tiga buku yang harus mendampingi penulis. EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), Kamus Bahasa Baku dan Kamus Bahasa Indonesia.


Sampel
Komentar Tulisan Ernawati
Halaman 35, “Pulau Bangka dan Keindahannya”

Judul simple dan cukup menarik, akan lebih menarik jika alinea pertama tarik perhatian pembaca dengan melukiskan betapa eksotisnya Pulau Bangka. Bisa dengan bahasa sastra, bahkan kalau ada kata indah yang bisa melukiskan keindahnya.
Ibaratnya iklan akan tertarik tidaknya pandangan pertama, setelah itu terserah anda. Terlebih keindahan Pulau Bangka dalam tulisan tersebut, belum tereksplor. Masih kurang. Jadi tulisan itu belum selesai.


Penggunaan angka sebaiknya hanya yang bersufat kuantitatif, seperti untuk menunjukan waktu 11.45 WIB. Tapi penggunaan angka ganda tidak perlu halaman 36 aline terakhir : Eksplor Bangka
Masih ada penggunaan kata depan dan kata sambung yang tertukar. Cara membedakannya, jika kata didepan kata sambung kata kerja. Penulisannya disatukan. Conto, di tunda. Tunda kata kerja, penulisannya disatukan “ditunda”.


Masih terdapat penulisan hurup capital setelah koma. Solusi untuk mengatasi persoalan teknis ini, memang kita harus berusaha sebelum naik cetak – sebaiknya dikoreksi dulu. Agar kesalahan sepele bisa dikurangi.
Ilustrasi dalam semua buku, sangatlah penting. Karena bisa membantu banyak hal. Foto misalnya bisa berceritra 1001 bahasa. Akan lebih bagus di setiap foto diberikan narasi, setidaknya nama tempat dan hal lain yang menarik.


Penggunaan kata penyambung antara satu momen kemomen lain, dengan kata “Setelah” di awal kalimat sebaiknya jika tidak merubah maksud kalimat tersebut. Sebaiknya dihilangkan. Langsung saja pada kalimat berikutnya. Contoh; Setelah dari Hutan Mangrove Munjang. Hilangkan kata setelah, “Dari Hutan Mangrove Munjang” dst.


Hindari kata sambung ditempatkan di awal kata. Conton halaman 44 : Yang membuat saya saya tertarik. Ganti atau tambah kata yang dengan kata lain, “ Hal yang menarik”. “Saya tertarik dengan papan besar. Hindari penggunaan kata yang tidak perlu. Hal 44 kata yang diulang sampai 4 kali.


Komentar Tulisan Tika Wartika
“Danau Biru” halaman 130
Judul baru menunjukan tempat, sebaiknya diperkuat. Eksotis Danau Biru. DANAU BIRU sports foto baru dst.
Hindari mulai kata dengan kalimat klise, “Di sebuah dusun. Pada suatu hari dsb” Cari pembuka kata yang lebih menarik. Misalnya, “Kampung Gorobok sontak viral karena blab …blab …
Hindari paragrap yang terlalu panjang. Efektifnya, satu paragraph atau alinea sebaiknya hanya mengandung satu dua pesan atau pokok bahasan. Lihat halaman 131 hampir satu halaman tidak ada alinea.


Coba cari ada berapa pokok pikirannya, lalu pisahkan dalam alinea. Maka pembaca akan lebih memahami dan menikmatinya.
Cari hal unik atau spesifik, yang menjadi kekuatan objek wisata tersebut berbeda dengan objek disekitarnya.


Komentar karya Nia Kurniasih
Judul, “Hutan Jati” kalau bisa beri penguatan misalnya, “Menikmati Hutan Jati”. Kurangi kata saya sebagai penulis. Tanpa menyebutkan kata saya, pembaca sudah tahu karena di daftar isi sudah ada nama penulisnya.
Bumbu tulisan itu perlu sebagaimana di bagian sebelumnya dijelaskan. Ada bagian tulian Nia menarik dengan canaan nyeleneh. “Apalagi jika ayunannya ada yang menggoyangkan, heee ..!

1 Komentar

  1. Terimakasih suhu. Semoga buku dengan kumpulan penulis ttg wisata Nusantara menjadi referensi para pecinta alam Indonesia.

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama